Feeds:
Posts
Comments

Masih membekas diingatan kita mengenai kasus-kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara di negeri ini, tentu hal ini sungguh sangat memprihatinkan dan membunuh akal sehat kita, dimana pejabat negara yang seharunya memberikan contoh  yang baik serta memberikan pelayanan kepada masyarakat akan tetapi harapan kita dihancurkan oleh sikap yang tidak terpuji. Kasus serupa terulang kembali, lingkaran kekuasaan membuat semuannya kelihatan mempermudah segala hal akan tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian, harta, tahta dan wanita kesemuannya itu merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan di dunia ini. Jika disalah satu hal tersebut dinikmati secara berlebihan dan tanpa di kontrol oleh pikiran tentu mendatangkan malapetaka akan tetapi jika semua hal itu dapat dikendalikan dengan baik melalui Panca Indra tentu akan mendatangkan kebaikan pula. Dalam hal ini saya ingin menyampaikan bukan baik dan buruk yang kita nilai dalam hidup ini termasuk dalam novel fiksi ini melainkan mencari arti sebuah kehidupan dan hanya semata-mata untuk menjalankan peran yang telah dibagi-bagikan oleh Tuhan kepada kita semuanya. Masalah baik dan buruk adalah kinerja pikiran, baik bagi kita belum tentu baik juga bagi orang lain, begitu juga sebaliknya dan hal ini diceritakan dengan apik oleh Wenny Arta Lugina dalam sebuah buku novel fiksi yang dia tulis dengan judul The Blackside : Konspirasi Dua Sisi, Enjoy.

The Blackside : Konspirasi Dua Sisi Penulis : Wenny Artha Lugina Penerbit : Bentang Pustaka

The Blackside : Konspirasi Dua Sisi Penulis : Wenny Artha Lugina Penerbit : Bentang Pustaka

Salah satu jalan pintas untuk menghindar dari suatu masalah yang tengah dihadapi ialah dengan cara melarikan diri sejauh-jauhnya dengan harapan masalah tersebut ilang selama-lamanya dan tidak muncul lagi kepermukaan, akan akan tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk Farah Alicia, wanita cantik yang dulunya adalah news anchor terkenal di negeri ini mendadak hilang pamor dan keterkenalannya di depan televisi. Banyak  yang mengetahui karir cemerlang Farah di dunia presenter berita dan menjadi buah bibir di banyak kalangan masyarakar umum serta kalangan para pejabat dan tersohor di negeri ini yang pernah menjadi narasumbernya. Jika saya ilustrasikan wajah cantik Farah mungkin seperti Glory Oyong di Kompas TV atau mungkin Andini Effendi di Metro TV J.

Chaoyang Park West Road pun belum dapat menghapus duka lara yang sedang melanda hati Farah. Walaupun sudah lari ribuan kilometer dan bersembunyi dalam diam di sebuah negara terbesar di dunia tapi toh Farah tetap saja kembali ke tanah air, tanah kelahiran dan yang telah membesarkan karirnnya, dimana dia dulu pernah “dipermaikan” oleh sang kehidupan. Hidup adalah karma phala (hasil perbuatan) yang harus dijalankan untuk menebus hutang atau membayar hutang kita pada sang pencipta. Entah itu baik atau buruk, itu kan hanya pikiran yang menggerakan semuanya, perbuatan yang kita lakukan (entah sengaja atau tidak sengaja, baik atau tidak baik, hal itu semua olah pikiran saja) kita melakukan dan terlibat dalam drama atau skenario Tuhan tentu hal tersebut telah dipikirkan oleh tuhan dan tuhan telah memilih pemeran yang pas untuk memerankan peran itu (baca : Farah) jadi Farah sepertinya sudah paham betul akan makna hidup yang sesungguhnya, walaupun di dalam hati kecilnya masih mengeluh kepada sang sutradara (Tuhan) kenapa harus aku yang menjalankan peran ini.

Farah di dalam pengasinganya membuat pertanyaan-pertanyaan dalam diri yang begitu banyak, yang tidak bisa dijawab oleh siapapun kecuali oleh dirinya sendiri. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya tersebut dan ingin menjawab semua pertanyaan yang dia buat sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke tanah air untuk mencari serpihan-serpihan yang tersisa dan tentu tidak sendirian J. Hal ini dilakukan oleh Farah untuk “memuaskan” rasa ingin tahu dia akan apa yang telah terjadi selama ini di Indonesia. Semenjak suami tercinta yang dinikahinya secara siri meninggal di dalam tahanan pada saat menyandang status tersangka korupsi yang hingga saat itu belum terbukti di pengadilan yang menyatakan bahwa suaminnya tersebut bersalah, apakah ini ada konspirasi jahat antara sang Istri dengan Menteri Pertahanan Radi Djuanda yang menaruh hati pada sang Saraswati alias Manis, tentu hal ini memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Farah adalah anak angkat dari  pasangan keluarga pengusaha terkenal Bapak Danny Haryanto dan Ibu Elly Haryanto, mereka sangat mencintai dan menyayangi Farah, sama seperti Fandi, adik Farah yang baru. Farah terlahir dalam keluarga yang kurang harmonis, kedua orang tuanya selalu cekcok di rumah dan tentu kondisi ini tidak baik buat psikologis Farah kecil dan terpaksa Farah diungsikan oleh para tetangganya di panti asuhan. Kemudian Farah besar dan tumbuh dalam keluarga Haryanto dan hal itu membuatnya memiliki semangat hidup yang besar untuk menjadi orang yang sukses untuk membuat orang tuanya bangga terhadapnya. Oleh Ibu angkatnya, Elly Haryanto, Farah sangat di sayang dan sudah dianggap seperti putri kandungnya sendiri, akan tetapi semenjak Farah kehilanan ayah angkatnnya yang telah meninggal dunia, daya semangatnya sempat menurun, dia kehilangan figur seorang ayah yang menuntun dia dan skarang dia harus menjadi panutan untuk adiknya si Fandi. Akan tetapi hidup trus berjalan dan bagi Farah ayahnya adalah seorang yang penyayang, lembut dan menjadi panutan baginya, dalam benaknya cara membuat ayah bangga ialah dengan  terus  hidup dan berusaha dalam hidup untuk menjadi orang yang berguna dan sukses nantinnya.

Pada dasarnya Farah adalah wanita yang fokus akan pekerjaannya sebab karena dia sangat mencintai pekerjaannya tersebut, pekerjaan sebagai news anchor di sebuah media televisi terbesar di tanah air berlabel Gold TV. Gold TV dipimpin oleh Reffi Subrata, pemuda yang tampan, gagah, dan kaya raya tentunya. Farah sangat beruntung memiliki sahabat seperti Reffi, dia sangat mempercayai Farah dalam dunia pertelevisian ini, dan Reffi Subrata adalah News Director dari Gold TV,  oppsss jangan berpikir negatif dulu, Reffi memang sudah menaruh hati kepada Farah akan tetapi Farah hanya menganggap Reffi adalah sahabat sejatinya, jelaskan ini bukan KKN tapi profesionalitas.

Farah adalah sosok wanita yang sempurna, cantik dan memiliki karir yang meroket dan melihat peluang ini, tidak tanggung-tanggu Bos Gold TV membuatkan acara khusus yang nantinya akan di pandu sendiri oleh Farah, acara tersebut diberi bertajuk Indonesia’s Next Leader. Terlalu cintanya terhadap pekerjaannya itu, membuat Farah lupa akan sekelilingnya, Reffi yang selalu memberikan perhatian kepadanya atau mungkin laki-laki lain yang suka terhadap dia, satu pun tak dihiraukannya. Tapi pada akhirnya toh Farah yang akhirnya jatuh hati pada lelaki juga. Lelaki yang beruntung itu bernama Chandra Adi Prayogo, beliau adalah Menteri Sosial yang namanya lagi naik daun di negeri ini. Getaran-getaran cinta Chandra yang mampu melumpuhkan hati Farah, kalo sudah cinta mau apa dikata. Cinta membuat seluruh status, kategori dan apapun sirnah yang ada hanyalah cinta dan bagaimana untuk segera memiliki satu sama lain.

Komunikasi melalui SMS-an dan telpon-telponan pun mulai dijalankan diantara mereka, rasa kangen bermunculan satu sama lain, nah ini cinta namanya, bukan cinta yang dibuat-buat seperti halnya Chandra menikahi istrinya Saraswati karena alasan materi dan mempertahankan nama besar keluarga. Ya..Betul..Chandra adalah suami sah dari Sarawati dan telah dikarunia satu orang putra yang tampan. Brati Farah pupus sudah harapannya untuk mendapatkan sang pujaan hatinya, jawabannya tentu tidak. Farah menutup mata akan status si Chandra dan mengambil keputusan untuk terus menjalin komunikasi cinta dengannya, namanya juga cinta kan. Hal ini dapat di ibaratkan, seperti anak kecil yang dinasehatin bahwa jangan bermain korek api karena jika terkena tangan akan terasa panas, namanya juga anak kecil rasa ingin tahunya tinggi, sebelum anak kecil itu tahu seperti apa rasanya panas terkena api, dia akan terus mencoba dan mencoba sehingga suatu saat dia tahu artinya panas.

Apa yang dilakukan oleh Farah jika dicerna akal sehat tentu merupakan suatu kesalahan, akan tetapi apakah anda pernah diposisi Farah dan merasakan jatuh cinta? seperti apa  yang dirasakan oleh Farah saat itu. Anda pasti tahu jawabannya dan mungkin lagi senyum-senyum sendiri kan, Farah hanya menjalankan perannya sebagai Farah yang seutuhnnya, dia manusia yang normal dan memiliki ketertarikan terhadap seorang Pria. Jika anda berpikir bahwa kenapa si Farah tidak menikah saja dengan Reffi, mungkin setelah mereka berdua menikah hidup Farah akan baik-baik saja dan sejahtera, apalagi coba dipikirikan oleh Farah, Reffi adalah orang yang bukan sembarangan, pemuda kaya raya di negeri ini, Reffi memiliki segalanya tapi toh Farah tidak memilihnya dan belum jatuh cinta pada Reffi. Cinta sulit untuk di definisikan termasuk oleh Farah sendiri, yang mau dinikahi siri oleh Chandra, tentu ini bukan masalah Chandra lebih kaya daripada Reffi, tentu bukan, ini masalah cinta dan rasa ketertarikan satu sama lain.

Cintanya yang terlalu besar kepada Chandra membuat Farah menjadi kehilangan logika untuk berpikir jernih. Tapi apapun jalan yang telah di ambil oleh Farah itu adalah tanggung jawab dia, dia bertanggung jawab sepenuhnya atas hidup yang dia jalanin saat ini, jika itu dipandang sebagai skandal atau apalah namanya, hal tersebut hanyalah sebutan orang-orang. Farah tidak terlalu banyak memikirkan omongan orang kepadanya dan yang dia yakini adalah Farah cinta Chandra dan begitu sebaliknya, sudah cukup bagi Farah.

Farah tidak pernah melihatkan rasa cemburu terhadap perempuan manapun, akan tetapi terhadap Chandra tentu berbeda. Farah sangat murka ketika Chandra sedang berdua bersama seorang perempuan, perempuan itu adalah kekasih pertama dari sang menteri sosial tersebut. Dan tanpa disengaja Farah memergoki mereka berdua sedang jalan berdua dan tanpa ragu Chandra mengenalkan Diana kepada Farah. Diana hampir sama dengan Farah, yang diangkat menjadi seorang anak. Dan Farah tidak bisa terima dengan kondisi tersebut walaupun Chandra sudah menjelaskankan kepada Farah dan akhirnya Farah mencari sendiri informasi tentang Diana yang dia buntutin sehabis Diana pulang bekerja di Kafe atau Kelab Malam (penuturan warga yang sekampung dengan Diana). Akhirnya Diana secara lancar menjelaskan kepada Farah duduk perkara yang dialami oleh Chandra dan Diana, secara perlahan-lahan Farah memahami posisi dan kondisi mereka berdua, yang awalnya memiliki rasa dendam yang luar biasa setelah mendengarkan cerita Diana membuat Farah merasa kasihan terhadap Diana.

Masa-masa sulit terus menimpa Chandra dan Farah yang berdampak kepada hubungan mereka berdua. Komunikasi tidak berjalan lancar karena Chandra jatuh sakit serta di penjara di rumah oleh sang Istri (seakan-akan Istrinnya tahu hubungan mereka berdua, hal itu ditunjukkan dengan sikap Istri dari Chandra memutus komunikasi Chandra kepada siapapun, akan tetapi Istrinya berdalih alasan kesehatan dan supaya dapat beristirahat total dari sakit yang diteritanya). Kondisinya semakin tidak baik dan membahayakan posisi sang menteri, sebab Arman sang koordinator penyidik penanggulangan korupsi mengenduh indikasi korupsi yang dilakukan oleh sang menteri melalui PT. Komindo Jaya Utama yang menang tender tapa prosesur yang jelas alias ilegal. Dan hal ini membuat karir cemerlang Chandra berhenti di tengah jalan dan berujung kematian baginya, sungguh ironis.

Farah Alicia adalah wanita yang tetap teguh dalam kondisi apapun, skarang dia bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat sebelumnya, tentu hal tersebut bukan membuatnya takut untuk melangkah maju malah sebaliknya sekarang Farah sudah mulai untuk mencari kembali jalan hidupnya yang sempat menemui jalan terjal dan dengan keyakinannya dia akan mampu melewati semua itu. Sudah barang tentu sudah saatnya Farah muncul ke publik untuk memperlihatkan jati dirinya dan sudah tidak ada gunanya lagi untuk bersembunyi dan lari dari kenyataan yang telah terjadi. Apakah Farah mau untuk berterus terang akan dirinya dan Chandra? atau malah sebaliknnya dia akan membeberkan seluruh kisah hidupnya bersama Chandra yang telah dia jalanin selama ini dan selama itu pula dia telah menutup-nutupinya dari sahabatnya sendiri.

Desa Panji, Bali Utara, Desember 2014

Saya masih ingat empat tahun yang lalu menulis di blog ini tentang berlangsungnya Piala Dunia 2010 pada sat itu, dan tahun ini Piala Dunia hadir kembali di Brazil. Tahun 2010 sungguh kelam bagi Tim Brazil, dikala itu Tim Zamba (julukan Brazil) harus menelan pil pahit atas kekalahan yang diterima dan yang lebih menyakitkan lagi Brazil bermain dengan 10 orang hal ini dikarenakan Melo di kartu merah oleh wasit yang memimpin pertandingan pada saat itu. Mungkin itu cerita kelam yang menimpa tim Samba tahun 2010, akan tetapi tahun ini perhelatan Piala Dunia telah berlangsung di Brazil dan tim Samba menjadi tuan rumah pada saat ini.

Tentu kesalahan yang terjadi di tahun 2010 tidak akan pernah terulang lagi, target mereka di hadapan publik sendiri adalah Juara Dunia untuk ke enam kalinnya. Banyak isu yang beredar keberlangsungan Piala Dunia di Brazil akan mengalami kendala, hal ini diperlihatkan oleh berita-berita di televisi, media cetak maupun media online yang memberitakan bahwa pemerintah Brazi belum siap untuk menyelenggarakan even empat tahunan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan maraknya aksi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat Brazil yang tidak setuju dengan adanya even tersebut, belum lagi tindak kriminal di Brazil yang begitu tinggu, kemudian infrastruk penunjang berlangsungnya Piala Dunia ini belum siap seperti bandara yang belum siap menerima banyaknya pecinta bola akan hadir disana, dan stadion yang belum jadi pengerjaannya, intinya banyak sekali hal-hal primer yang belum siap.

Akan tetapi pada saat pembukaan Piala Dunia semuanya dapat berjalan dengan lancar dan sebagai laga pembuka Tim Tuan Rumah berhasil mencuri point dan memberikan angin segar kepada rakyat Brazil, tentu ini membuat publik brazil berharap dengan diadakannya Piala Dunia di negeranya mereka bermipi untuk menjadi juara dan mencatatkan sejarah dunia Brazil yang menjadi satu-satunya yang mengkoleksi juara dunia sebanyak enam kali. Piala Dunia merupakan magnet yang luar biasa bagi insan pecinta sepak bola di seluruh dunia, sebab dengan olah raga ini seluruh dunia memasang mata untuk menyaksikan even akbar ini dan dapat menjadikan suatu persatuan dan kesatuan di seluruh dunia. Tentu harapannya adalah melahirkan suatu komunitas baru di dalam pergaulan dunia internasional dan hubungan internasional serta membawa wajah dunia yang indah melalui sepak bola.

Sejak pertama melihatmu, engkau begitu sempurna
Entah perasaan apa yang ku rasakan
Darahku mendidih dan konsentrasiku hilang entah kemana
Aku tidak bisa menahan untuk dapat dekat denganmu dan memilikimu
Tentu ini bukan napsu belaka
 
Apakah ini cinta?apakah secepat itu?
Entahlah…..
Tapi aku merasakan getaran yang berbeda
Entah mengapa hanya tentangmu selalu hadir disetiap langkahku
Setiap hadirmu membawa semangat dalam hidup
Setiap lamunanku, ku berharap engkau  tahu apa yang aku rasakan
Memang benar ini cinta
 
Cinta suci tidak memerlukan balasan apapun
Cinta itu murni
Cinta itu Tuhan
 
Di setiap doaku, semoga engkau berbahagia selalu
Di setiap doaku, semoga engkau selalu dalam lindungannya
Di setiap doaku, engkau akan selalu menjadi motivasiku
Di setiap doaku, engkau akan selalu menjadi inspirasiku
 
Di saat engkau lelah, aku siap menjadi sandaranmu
Di saat engkau marah, aku siap engkau caci
Di saat engkau sedih, aku siap menghapus air matamu
Di saat engkau bahagia, aku siap menjadi pendengar setiamu
Di saat engkau sakit, aku siap menjadi pelayanmu
Di saat engkau rapuh, aku akan menyanggamu
Itu janjiku padamu
 
(Pogung Baru)

Ternyata sudah lama (banget) saya tidak menulis di blog ini he he, maklum masih menyesuaikan diri di Jogja (alasan pembenar saja), tentu ada alasan yang kuat kenapa saya harus kembali belajar menulis melalui blog ini. Hal ini berkaitan dengan keberangkatan saya ke Surabaya untuk mengikuti Seminar Nasional yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri RI (Kemenlu) bekerja sama degan FH Unair, adapun tema seminar pada saat itu adalah tentang Perjanjian Internasional, Ah apa coba istimewanya seminar itu, toh di setiap kampus seluruh Indonesia juga sering mengadakan seminar-seminar serupa bahkan ada yang mengadakan seminar internasional J. Pada saya itu saya bertemu dengan I Wayan Parthiana, siapakkah beliau?, jika kalian suka membaca buku tentang hukum internasional dan khususnya hukum perjanjian internasional tentu tidak asing dengan nama beliau. Yappp…betul…beliau adalah pengarang buku hukum perjanjian internasional yang telah lama menghiasi rak buku saya saat kuliah di Surabaya dan Yogyakarta dan sampai sekarang masih (saat nulis ini didepan saya ada buku beliau, karena saya sedang menulis penelitian tentang perjanjian internasional). Mungkin sebagian orang beliau “bukan siapa-siapa” karena belum pernah menjadi seorang menteri  atau pejabat di negeri ini, tapi bagi saya beliau salah satu sumber referensi dan inspirasi untuk belajar hukum internasional. Pria kelahiran  Gianyar Bali  ini  pernah mengenyam pendidikan Fakultas Hukum Universitas Udayana, Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, telah menyelesaikan program S2nya di Universitas Padjajaran, ada yang unik dari beliau adalah pada bagian akhir buku beliau mencantumkan dengan gagah dan berani (mungkin sebagian kalangan akan malu atau tidak akan menampilkan hal ini tapi beliau tidak) bahwa beliau pernah DO alias Drop Out, hayooo sapa berani seperti ini, notabe-nya sebuah buku atau karya tulis wajib hukumnya menampilkan yang baik dan indah tapi karena kesederhaan beliau hal itu tidaklah penting (menurut pandangan penulis) dan sekarang beliau menjadi guru atau dosen di Universitas Parahyangan, Bandung.

Ada cerita unik yang ingin saya ceritakan pada kesempatan ini, jauh sebelum itu saya bertemu dengan mahasiswa S2 yang seorang karyawan Bulog di Bali sana kira-kira tahun 2008, karena dikenalkan oleh teman bernama Wawan mahasiswa teknik UGM. Singkat cerita (biar gak panjang ceritanya) teman ini kenal juga dengan Pak Wayan ini, dan kami pun berdiskusi kecil tentang beliau dan buku-buku beliau, teman ini saya biasa panggil dengan sebutan Bli Agus dan dia berjanji akan mempertemukan saya dengan Pak Wayan suatu saat nanti, dan akhinya kesempatan itu hadir bulan November 2013 di Surabaya, sudah lama sekali saya tidak pernah bertemu dengan Bli Agus karena dia harus dinas (di luar Bali), terimakasih Bli akhirya saya bertemu dengan Pamannya Bli di Surabaya J dan saya akan ke Bandung dalam waktu dekat untuk berdiskusi dengan beliau. (Pogung Baru 151113)

 

//

Tidak seperti biasanya, kali ini saya agak was-was menghadap atasan saya yaitu ketua jurusan Pendidikan Kewarganegaraan, pada saat itu saya hanyalah orang baru di lingkungan kampus jadi setiap dipanggil saya berpikir kesalahan apa yang saya perbuat. Tanpa mikir panjang saya langsung menghadap dan duduk manis dihadapan pimpinan saya dan percakapan serius pun dimulai. Saya diberikan kesempatan untuk mengikuti persaingan memperebutkan beasiswa luar negeri khususnya ke Amerika Serikat, tentu tanpa pikir panjang saya mengiyakan kesempatan emas tersebut dengan mengambil formulir yang telah disediakan dan mengisikannya dengan lengkap kemudian saya kirim kembali data diri saya ke Jakarta untuk diproses lebih lanjut. Tentu kesempatan langka ini tidak akan saya sia-siakan, yang bisa saya  lakukan pada saat itu hanya berdoa dan menunggu hasil dari Jakarta. Kesempatan itu telah datang, dan perjuangan saya untuk memperoleh beasiswa dan merasakan atmosfir dunia pendidikan di salah satu benua terbesar dan konon memiliki pendidikan salah satu terbaik di dunia akan segera terwujud, perjuangan akan dimulai dari Jakarta, saya dikumpulkan untuk mengikuti seminar, workshop, serta mendengarkan program yang saya akan ikuti. Pada saat itu peserta yang hadir cukup banyak dari kalangan dosen LPTK seluruh Indonesia.

IMG_3263Cukup unik memang, beasiswa yang akan diperebutkan adalah bertajuk tentang Civic Education sedangkan saya berlatar belakang ilmu hukum, kenapa saya berkesempatan dan boleh mengikuti program ini, karena pada saat itu saya sedang mengampu atau mengajar mata kuliah umum tentang Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan. Sempat membuat hati ini menciut karena yakin dari kualifikasi saja tidak akan berhasil lolos, tapi tuhan punya rencana lain, dengan keteguhan hati saya ikuti saja alur dan program selama di Jakarta, dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa saya berhasil lolos selesi tahap pertama di Jakarta dan akan dilanjutkan untuk selesi tahap kedua yang akan dilangsungkan di Malang tepatnya di Universitas Negeri Malang (UM) dimana nanti saya dan kawan-kawan yang berjumlah 15 orang yang lolos seleksi di jakarta akan menyenyam pendidikan bahasa inggris disana dengan tujuannya adalah untuk mempersiapkan dan mematangkan bahasa inggris. Selama tiga bulan kami menimba ilmu di Malang dan berharap mimpi indah menghampiri saya, dengan kekuatan doa dan selalu berusaha tanpa henti, pengumuman keberangkatan untuk tahap awal beasiswa harus melalui tahan short course terlebih dahulu telah diumumkan dari 15 peserta yang akan berangkat menuju Amerika Serikat tepatnya di East-West Center hanya 13 peserta saja yang akan mengikuti program tersebut sebab 2 peserta mengajukan pengunduran diri karena alasan keluarga. Puji syukur saya panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena berkatnyalah saya dapat kesempatan emas ini.

Ini merupakan beasiswa pertama buat saya dan pertama pula akan menginjakkan kaki di negeri orang, ini yang membuat saya sangat bersemangat dan bergairah (bergairah untuk belajar pendidikan disana, bukan yang lain lho ya he he). Sebelum keberangkatan saya ke Amerika kita harus mengurus Visa pelajar (J1) terlebih dahulu, hal ini mudah saya lalui padahal di awal saya sangat takut jika tidak mendapatkan Visa pelajar tersebut berarti jika tidak dapat mengantongi  Visa J1 tersebut saya tidak akan berhasil masuk Amerika, konon gosipnya mengurus Visa Amerika sangat susah tapi buktinya tidak seperti yang saya bayangkan. Semua perlengkapan sudah beres dan tepat pada  tanggal 11 November 2012 saya dan para peserta yang lain berangkat menuju Honolulu, Hawaii tempat kami akan memperoleh pendidikan, dimulai dari Jakarta, menuju Singapura, kemudian melanjutkan perjalanan ke Tokyo dan terakhir mendarat di bandara Internasional Honolulu. Dalam perjalanan menuju Honolulu, banyak pemandangan yang sangat menarik yang saya jumpai, terutama tentang bandara yang bersih dan nyaman. Sesampainya di Hawaii, serasa mimpi saja dan saya senyum-senyum sendiri dan berbicara dalam hati ini saya sudah berada di luar negeri ya. Saya masih ingat kejadian dan memori pada saat saya masih kuliah di Surabaya tepatnya tahun 2003, dimana saya punya cita-cita untuk pergi ke Amerika Serikat, hal ini disebabkan ketika saya selesai menyaksikan sebuah film serial yang bertajuk Love Story in Harvard. Seorang mahasiswa Asia yang kuliah di Universitas Harvard yang memiliki motivasi yang besar dan minat terhadap ilmu hukum yang luar biasa, sedikit menghilmahi saya pada saat itu untuk ingin sekali mengenyam pendidikan di negeri paman sam tersebut. Saya sangat percaya sekali dengan kekuatan mimpi dan tentunya dibarengi dengan usaha dan kerja keras pastinya. Sudah habis waktu untuk tidak percaya karena sudah berada di Amerika, yang harus saya hadapi dan jalanin saat itu adalah kuliah perdana, penyesuaian hidup disana serta membuat diri nyaman berada di Hawaii, karena ini bertajuk hanya short course terlebih dahulu kami agak rileks menghadapi kuliah perdana saya, akan tetapi short course ini yang akan menjadi batu loncatan saya untuk masa depan dan memperoleh kelanjutan kuliah saya di Amerika nanti.

Pengalaman kuliah di Amerika tentu sangat berkesan bagi saya, di awal perkuliahan saya harus mempresentasikan tentang timeline dari diri sendiri serta sejarah bangsa Indonesia, kemudian saya bersama peserta yang lain mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Polynesian Cultural Center dan Doris Duke for Islamic Art (Shangri La), Shangri La adalah nama dari sebuah mansion bergaya Islam yang dibangun oleh ahli waris Doris Duke di dekat Diamond Head di Honolulu, Hawaii. Sekarang dimiliki oleh Doris Duke Yayasan untuk seni Islam (DDFIA) bekerjasama dengan Honolulu Museum of Art. Kemudian saya berkesempatan untuk mengunjungi Pearl Harbour Memorial, dimana Pearl Harbour adalah pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di pulau OahuHawaii, barat Honolulu, tempat bersejarah ini mengingatkan saya pada tanggal 7 Desember 1941 Pemerintah Jepang menyerang Pearl Harbour yang membawa Amerika Serikat ke kancah Perang Dunia II. Dunia pendidikan di Amerika sangat maju, hal ini saya lihat dari pengelolaan pendidikan, kurikulum, serta perpustakaan yang tersedia di sana.

Amerika yang memiliki dunia pendidikan salah satu terbaik di dunia dan bertemu orang-orang pintar dan sukses sudah tentu, dari David Grossman yang baik hati, serta Terry (Direktur East-West Center) yang murah senyum, pada saat itu saya terkaget-kaget ketika dikatakan bahwa adik tiri dari sang Presiden Amerika Serikat Barack Obama adalah salah satu staff dosen di University of Hawaii. Saya saat itu bermimpi ingin sekali bertemu dengan beliau (walaupun tidak dapat bertemu dengan kakaknya, gak ada salahnya juga dapat bertemu dengan sang adik, mumpung berada di Hawaii). Entah dari mana datangnya angin segar pada saat itu seorang sabahat dengan nada sedikit bercanda menyatakan pendapat kepada David Grossman, dia mengatakan begini :”David, apakah kita dapat bertemu dengan Maya”, dan David dengan cepat merespon keinginan tersebut dengan menjanjikan akan berusaha akan mempertemukan kami dengan Maya.

Jawaban pun datang, dengan senyum yang manis David membawakan kabar baik kepada kami semuanya, bahwa kami dapat bertemu dengan Maya pada saat acara Aloha Day 2012. Wuah tanggal yang sangat istimewa karena saya akan bertemu dengan Maya tepat pada tanggal 12 Desember 2012 (Hawaii), tidak hanya saya saja yang senang akan tetapi seluruh peserta merasakan hal yang sama. Tibalah saatnya kami menuju acara Aloha Day 2012, dimulai dari Abraham Lincoln Hall tempat kami menginap selama Short Course disana menuju gedung East-West Center tempat kami harus berkumpul bersama David, dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju tempat acara kira-kira memerlukan waktu 15 menit untuk sampai disana. Setelah sesampainya disana, situasinya biasa-biasa saja (padahal yang akan hadir adalah adik dari Presiden USA), sebelum acara dimulai saya sempat mengantar seorang sahabat untuk melakukan sholat di daerah tersebut tidak jauh dari aula pertemuan dengan Maya, ketika sahabat saya selesai menunaikan ibadahnya datanglah sang idola dengan santai saya menghampiri beliau (dalam hati saya ingin mengatakan kami dari Indonesia dan minta foto bersama) belum saya mengungkapkan isi hati saya, beliau sudah mencium pipi kiri saya dan mengatakan setelah acara dia akan foto bersama kami he he. Dia sudah tahu maksud kita datang ke acara tersebut. Dengan kihmat kami menyaksikan kuliah umum tersebut meskipun ada beberapa teman yang harus kembali ke asrama karena hari sudah mulai larut malam. Tapi saya tetap bertahan untuk dapat berbicara dengan beliau, dan kesempatan itu datang sesudah acara tersebut selesai. Memang saya tidak dapat berbicara dan bertanya banyak pada beliau, akan tetapi kesan saya terhadap beliau adalah dia memiliki personal yang ramah dan baik hati. Dan dia masih ingat dengan Indonesia, pertemuan yang singkat dan sungguh berkesan sekali. Entah kapan lagi dapat bertemu dengan beliau, tapi disuatu keyakinan saya akan bisa bertemu dengan dia suatu tempat yang berbeda, mungkin saja yang dulunya saya hanya melihat dia memberikan kuliah umum kepada saya dan dikedepannya kami sama-sama dapat duduk bersama menjadi pemateri (ini kan mimpi, boleh donk). Melalui beasiswa 2012 ini mimpi yang saya pendam sejak tahun 2003 telah terwujud melalui tanga-tangan Tuhan, berkat selalu menjaga mimpi tersebut dan selalu berdoa yang tentunya dibarengi dengan kerja keras, saya yakin hasil yang baik akan selalu menghampiri kita jika kalau kita selalu berusaha dan berpikir positif menghadapi semuanya dan saya masih banyak mempunyai mimpi yang tidak akan saya utarakan disini semuanya dan berdasarkan cerita diatas saya tidak takut lagi untuk bermipi karen mimpi itu gratis.

Desa Panji, Bali Utara

Tulisan ini diterbitkan dalam buku : Semut Merah 75

//

Saya bersama Maya Soetoro-Ng

Saya bersama Maya Soetoro-Ng 2012

Saya ingat akan sosok Anthony Robbins yang mengidolakan Jim Rohn, karena pada suatu ketika Anthony Robbins datang pada seminar Jim Rohn pada saat itu dia mendapatkan suatu kekuatan yang luar biasa dan menjadikan dia menjadi motivator terbaik di dunia sampai saat ini. Masih teringat di kepala saya seorang Soekarno sangat mengagumi pemikiran dari Swami Vivekananda, begitu juga kaum minoritas sangat mengidolakan sosok seorang Gus Dur yang humoris, humanis, dan pelindung bagi kaum minoritas dan wong cilik. Idola tidak hanya datangnya dari panggung dunia politik, tapi dunia sepak bola pun dapat melahirkan idola bagi yang suka akan bola, pasti kalian setuju jika dulu Pele menjadi idola fans berat bola pada zamannya, kalo sekarang Messi, Cristiano Ronaldo, serta Javier Zanetti menjadi idola bagi yang mencintainya.

Bertemu dengan idola kita adalah sebuah suatu pengharapan, kenapa kita harus bertemu dengan idola kita? kalo menurut saya untuk membuktikan bahwa mereka memang ada J dan dapat bersalaman dengan mereka merupakan suatu keindahan tersendiri. Dulu pada saat saya masih kuliah di Surabaya, saya suka sekali membaca buku tentang hukum diplomatik dan konsuler yang dikarang oleh Prof. Sumaryo Suryokusumo (selain menjadi dosen, beliau adalah manta diplomat ulung di zamannya), dengan sering membaca bukunya dan sampai-sampai untuk menulis skripsipun saya harus mengambil judul tentang diplomatik supaya lebih fokus untuk memahami dunia diplomat pada saat itu (karena dulu pernah punya cita-cita ingin menjadi seorang diplomat), setelah saya menyelesaikan skripsi dan saya berharap suatu saat nanti dapat bertemu dengan pengarang buku diplomatik tersebut. dengan pengharapan yang besar saya pada tahun 2007 melanjutkan kuliah di Jogjakarta, bukan hanya bertemu dengan penulis buku tersebut, saya bahkan diundang untuk hadir ke rumah beliau di Taman Sari Jogja (kebetulan sekali beliau yang memberikan kuliah hukum diplomatik dan konsuler pada saat saya mengambil master pada saat itu) entah suatu kebetulan atau tidak saya dapat bertemu dengan beliau. Suatu kebetulan yang berlanjut saya memperoleh kesempatan memperoleh beasiswa bersama TIM 12 (begitu kami sebut kelompok ini, pada suatu kesempatan lain saya akan cerita tentang TIM 12 Indonesia) ke East-West Center, Honolulu, Hawaii. Kebayang saja gak sampai sana he he sungguh keberuntungan yang sangat luar biasa.

Amerika yang memiliki dunia pendidikan salah satu terbaik di dunia dan saya sekarang berkesempatan untuk mengenyam pendidikan disana dengan tajuk Short Course Civic Education, apa itu? Tentunya sangat bermanfaat dan berguna bagi saya J. Bertemu orang-orang pintar dan sukses sudah tentu, dari David Grossman yang baik hati, serta Terry (Direktur East-West Center) yang murah senyum, pada saat itu saya terkaget-kaget ketika dikatakan bahwa adik tiri dari sang Presiden Amerika Serikat Barack Obama adalah salah satu staff dosen di University of Hawaii. Saya saat itu bermimpi ingin sekali bertemu dengan beliau (walaupun tidak dapat bertemu dengan kakaknya, gak ada salahnya juga dapat bertemu dengan sang adik, mumpung berada di Hawaii). Entah dari mana datangnya angin segar pada saat itu seorang sabahat (TIM 12) dengan nada sedikit bercanda menyatakan pendapat kepada David Grossman, dia mengatakan begini :”David, apakah kita dapat bertemu dengan Maya”, dan David dengan cepat merespon keinginan tersebut dengan menjanjikan akan berusaha akan mempertemukan kami dengan Maya.

Jawaban pun datang, dengan senyum yang manis David membawakan kabar baik kepada kami semuanya, bahwa kami dapat bertemu dengan Maya pada saat acara Aloha Day 2012 (Sit In lah namanya, kalo disini mungkin kaya kuliah umum gt lah J ). Wuah tanggal yang sangat istimewa karena saya akan bertemu dengan Maya tepat pada tanggal 12 Desember 2012 (Hawaii), tidak hanya saya saja yang senang akan tetapi seluruh TIM 12 merasakan hal yang sama. Tibalah saatnya kami menuju acara Aloha Day 2012, dimulai dari Abraham Lincoln Hall tempat kami menginap selama Short Course disana menuju gedung East-West Center tempat kami harus berkumpul bersama David, dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju tempat acara kira-kira memerlukan waktu 15 menit untuk sampai disana. Setelah sesampainya disana, situasinya biasa-biiasa saja (padahal yang akan hadir adalah adik dari Presiden USA), sebelum acara dimulai saya sempat mengantar seorang sahabat untuk melakukan sholat di daerah tersebut, ketika sahabat ini selesai menunaikan ibadahnya datanglah sang idola J dengan santai saya menghampiri beliau (dalam hati saya ingin mengatakan kami dari Indonesia dan minta foto bersama J ) belum saya mengungkapkan isi hati saya, beliau sudah mencium pipi kiri saya dan mengatakan setelah acara dia akan foto bersama kami he he. Dia sudah tahu maksud kita datang ke acara tersebut. Dengan kihmat kami menyaksikan kuliah umum tersebut meskipun ada beberapa teman yang harus kembali ke asrama karena hari sudah mulai larut malam.

Tapi saya tetap bertahan untuk dapat berbicara dengan beliau, dan kesempatan itu datang sesudah acara tersebut selesai. Memang saya tidak dapat berbicara dan bertanya banyak pada beliau, akan tetapi kesan saya terhadap beliau adalah dia memiliki personal yang ramah dan baik hati. Dan dia masih ingat dengan Indonesia, pertemuan yang singkat dan sungguh berkesan sekali. Entah kapan lagi dapat bertemu dengan beliau, tapi disuatu keyakinan saya akan bisa bertemu dengan dia suatu tempat yang berbeda, mungkin saja yang dulunya saya hanya melihat dia memberikan kuliah umum kepada saya dan dikedepannya kami sama-sama dapat duduk bersama menjadi pemateri (ini kan mimpi, boleh donk). Mahalo Hawaii.